Keluarga adalah merupakan kelompok
primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk
paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai
ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu
ikatan. Dalam observasi ini, kami mencoba untuk mencapai makna dari keluarga
tersebut dengan cara membentuk sebuah komunitas lansia yang bertempatkan di Jl.
Pareanom 20 Patang Puluhan Yogyakarta. Di tempat tersebut, kami melakukan
observasi dalam bentuk pengajaran atau berbagi ilmu dan pengalaman. Observasi kami berbasis pada kegiatan sosial
untuk membentuk sebuah komunitas bagi para lansia dalam suasana kekeluargaan
penuh kegembiraan dan kasih sayang.
Observasi ini kami laksanakan sebanyak
3 kali pertemuan dimana selama observasi dilaksanakan, kami memberikan beberapa
kegiatan yaitu pengajian, membaca Al-Qur’an, senam atau olahraga lansia,
bercerita, dan sharing tentang keluarga. Tujuan utama dari dibentuknya sebuah komunitas
lansi ini adalah untuk meningkatkan potensi lansi agar tetap aktif dan
produktif serta bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan orang-orang
disekitarnya. Dari observasi yang ami laksanakan, atusias dari para lansia di
sekitar wilayah pareanom sangatlah tinggi. “Saya sangat berminat sekali
mengikuti kegiatan ini agar tidak kesepian, dan saya juga ingin memperluas
interaksi dan silaturahmi dengan lansia-lansia lainnya tanpa melupakan keluarga
dirumah,” ujar ibu Wardanah, anggota komunitas lansia yang berusia 70 tahun. Begitu
halnya dengan alasan-alasan dari para lansia yang lain seperti mencari ilmu,
mencari kawan, dan ingin lebih kreatif produktif.
Dalam komunitas lansia ini, semua
anggotanya adalah wanita dan beragama islam. Hal tersebut yang mendasari kami
untuk memberikan kegiatan pengajian dan membaca Al-Quran. Ketika kegiatan
pengajian dilaksanakan, para lansia dengan seksama mencermati materi yang
diberikan oleh pemateri. Semangat para lansia dalam mengikuti kegiatan tersebut
sangat tinggi ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan-tanggapan
yang diberikan oleh para anggota saat kegiatan berlangsung. Dalam membaca
Al-Quran kami tidak menemukan kendala yang signifikan karena semua anggota
sudah mampu membacanya.
Tidak hanya terpaku pada kegiatan
yang sifatnya formal dan untuk rohani saja seperti pengajian dan membaca
Al-Quran bersama, ada juga kegiatan yang ditujukan kepada kesehatan jasmani para lansia yaitu senam atau olahraga lansia.
Kegiatan ini bertujuan agar para lansia tetap bugar sehingga dapat melaksanakan
kegiatan sehari-harinya dengan baik tanpa kendala kesehatan. Kegiatan ini
seperti senam jari, senam punggung, dan lengan. Seorang anggota berusia 65
tahun, Musiam Suparman, ibu dari 6 anak ini berujar,”dengan mengikut senam ini,
badan saya merasa lebih segar dan bugar. Nyeri-nyeri sendi menjadi berkurang.”
Kegiatan terakhir kami adalah
bercerita dimana di dalamnya dilengkapi dengan bertukar pikiran, berdiskusi,
berbagi pengalaman, dan bercanda bersama. Kegiatan ini bertujuan untuk
rekreasi, dalam artian adalah untuk merilekskan saraf otak agar tetap
berfikiran positif. Antusias bercerita para lansia sangat tinggi, bahkan ketika
kegiatan berlangsung semua anggota bercerita sehingga suasana menjadi ramai.
Mayoritas anggota adalah bercerita mengenai pengalaman hidupnya saat masih
muda.
Pandangan para anggota terhadap
keluarga sangatlah intim. Mereka berpandangan bahwa tidak ada keluarga yang
lebih erat kecuali keluarga yang berdasarkan hubungan darah. Seperti kata
seorang anggota bernama Siti Khalimah bahwa meskipun mengikuti kegiatan di luar
keluarganya dan memiliki keluarga baru di komunitas lansia ini, beliau tidak
lupa terhadap kedudukan dan perannya dalam keluarga.